Tuesday, June 30, 2015

PERJALANAN JAKARTA - LEBANON

The Journey Begins

Kapan aku pertama menyadari bahwa aku benar-benar bepergian ke Lebanon bukanlah pada saat aku sudah memegang tiket Qatar Airways tujuan Lebanon, juga bukan saat aku berangkat naik mobil pagi-pagi jam dua dinihari dari rumah ke Bandara Soekarno Hatta. Pertama kali ku mendapati kenyataan bahwa aku akan pergi Ke Lebanon bukan pula ketika aku sampai di Bandara Internasional Beirut, juga bukan ketika Saya menginjakkan kaki pertama kali di tanah Lebanon.

Lalu? Pertama kali benar-benar tersadar bahwa aku akan ke Lebanon, adalah pada saat aku merampungkan proses check-in dan akhirnya harus masuk ke ruang tunggu di Terminal 2 lantai 2 Soekarno Hatta untuk international departure. Meskipun sedih harus meninggalkan Istri dan anakku tersayang di luar Bandara tetapi  saat itu mau tidak mau harus segera masuk ke ruang tunggu, karena sudah mendekati waktu Boarding.

Penerbanganku ke Lebanon bukan direct flight dan harus transit di Doha (Qatar) terlebih dahulu kemudian dilanjutkan ke Beyrut. Penerbangan dari Jakarta ke Doha dengan Qatar Airways (QR) 959 ditempuh dalam waktu penerbangan selama kurang lebih 8 jam dengan waktu transit di Hamad International Airport di Doha selama 2.5 jam kemudian dilanjutkan dengan Qatar Airways yang lebih kecil dengan nomor penerbangan (QR) 420 ke Beyrut selama 3 jam. Take off dari Jakarta tanggal 26 Februari 2015 pukul 06.10 WIB, jadi aku yang tinggal di luar Jakarta harus berangkat jam 2.30 pagi untuk sampai di Airport dua jam sebelum keberangkatan, sehingga aku masih punya cukup waktu untuk melalui serangkaian pemeriksaan. Lebih baik bagi kita yang akan bepergiaan ke luar negeri, usahakan sampai bandara 2 jam sebelumnya. Kita akan cukup waktu untuk antre check-in, antri di bagian imigrasi, pemeriksaan barang bawaan dimana ikat pinggang dan sepatu tidak luput untuk kita lepaskan. Pengalamanku waktu itu dari setiap pemeriksaan di pintu metal detector aku selalu disuruh mengulangi dan melepas ikat pinggang. Selain itu, kita tidak diperbolehkan juga membawa air mineral yang cukup banyak ke pesawat, tapi santai saja air minum banyak tersedia.

Saat di ruang tunggu, banyak juga orang Indonesia yang mau ke Doha. Rata-rata mereka adalah keluarga yang ingin berangkat umroh ataupun hanya transit di Doha sepertiku, maklum Doha adalah salah satu pintu strategis menuju Saudi Arabia selain Dubai.  Dengan menggunakan Qatar Airways, penumpang asal Indonesia bisa melanjutkan penerbangan ke Amerika, Eropa, maupun Afrika via Doha setiap hari.Akhirnya, panggilan untuk masuk ke pesawat Qatar Airways pun terdengar juga.

Qatar Airways

Pesawat yang aku naiki adalah armada Airbus 330-200 yang berkapasitas 24 kursi kelas bisnis dan 248 kursi kelas ekonomi. Karena aku check-in agak awal, jadi dapat tempat duduk bagian belakang. Fasilitas dalam pesawatnya lumayan nyaman, mulai dari tempat duduk yang cukup lebar dibandingkan tempat duduk pesawat lokal, perlengkapan bersih diri, dan entertainment yang berisi puluhan movie dan video biar kita nggak bosan di pesawat. Setiap penumpang mendapatkan semacam gift set yang isinya kaos kaki, penutup mata, sikat gigi, yang dimasukkan dalam kantong kecil yang bisa digantungkan di leher untuk tempat dokumen.


Soal makan, jangan khawatir. Selama penerbangan 8 jam dari Jakarta ke Doha kita mendapatkan makan 2 kali, 3 jam selepas take off dan 2 jam sebelum landing. Makanan cukup enak. Menu makanan selalu ada 2 pilihan. Pada flight pertama saya mendapatkan 2 kali makan. Yang pertama saya memilih beef, sedang yang kedua, mereka menyebutnya snack tetapi sebetulnya ya makan besar biasa, saya memilih chicken. Rasanya cukup enak.




Setelah sempat tidur beberapa jam selama di pesawat akhirnya bandara Hamad International Airport mulai terlihat, penampakannya dari atas sangat gersang karena berada seperti ditepi gurun tetapi juga di dekat pantai.



Jam 11.00 siang waktu Doha atau jam 15.00 WIB akhirnya pesawat landing juga. Disini 4 jam lebih lambat dari waktu di Indonesia. Waktunya untuk transit….!!!

Hamad International Airport, Doha

Begitu kita keluar dari garbarata kita akan tersambung dengan lorong-lorong panjang menuju area transit atau kedatangan. Bagi penumpang yang tidak ingin keluar dari bandara bias terus menuju ke Transfer & Departure terminal. Kita tinggal berjalan sesuai dengan petunjuk yang diberikan. Petunjuknya sangat jelas terpampang di sepanjang lorong-lorong tersebut. Kita bisa berjalan sepanjang lorong dengan berjalan kaki biasa atau misalnya kita capek dan malas berjalan, kita bisa memilih berjalan melalui eskalator yang letaknya berdampingan dengan lorong biasa. Di ujung lorong-lorong ini seperti di bandara-bandara lain kita akan bertemu dengan custom check area, dimana barang bawaan kita akan di scan sebelum memasuki terminal transit.

Ada baiknya pasport selalu kita simpan di tempat yang mudah untuk setiap saat kita ambil agar tidak merepotkan diri sendiri. Seperti yang sudah pernah saya tuliskan di atas, pada saat kita berada di custom check, semua barang bawaan yang mengandung logam sebaiknya dimasukkan ke dalam tas terlebih dahulu supaya ketika kita melewati pintu detektor logam tidak berbunyi, karena kalau berbunyi kita disuruh mengulangi lagi untuk melewati pintu detektor tersebut. Tiket dan passport disimpan saja di dalam tas dan tidak perlu dikeluarkan, karena petugas tidak akan menanyakan. Petugas hanya ingin men-scan barang bawaan/hand carry kita.

Setelah selesai dari custom check, langkah kita akan langsung diarahkan ke Doha Duty Free area. Menariknya di tengah-tengah hall area ini ada boneka besar berwarna kuning. Hall ini lumayan luas, terletak di tengah-tengah antara Gate A, B, C, D dan E. Di tengah-tengah, samping kiri dan kanan hall ada beberapa meja customer service tempat penumpang bisa bertanya seandainya ada keraguan atau pertanyaan tentang suasana di HIA, menanyakan lokasi Gate, tiket, jadwal pesawat dan lain sebagainya. Walaupun ada 5 Gate: A, B, C, D dan E namun gate-gate ini masih terletak pada area yang sama.


Petunjuk-petunjuk arah yang ada di HIA sangat jelas sehingga memudahkan penumpang ketika mereka mencari informasi, misal informasi mengenai letak gate, duty free, food court, ATM, money changer, restoran, lounge dan lain sebagainya. Petunjuk mengenai informasi pesawat terbang pun sangat mudah bisa dijumpai, sehingga memudahkan penumpang untuk bisa melihat jadwal keberangkatan pesawat dan dari gate berapa pesawat tersebut akan diberangkatkan.

Setelah melihat jadwal keberangkatan pesawat berikutnya dari Doha ke Beyrut aku dengan mudah menemukan gate mana yang harus aku tuju. Dengan sangat yakin aku menuju ke gate yang dimaksud (gate C5 kalau tidak salah waktu itu). Tetapi, begitu sampai di gate keberangkatanku berikutnya ternyata tidak ada orang sama sekali di ruangan itu. Baik itu petugas counter maupun calon penumpang penerbangan ke Beyrut. Aku jadi ragu, akhirnya memutuskan untuk kembali ke meja customer service yang jaraknya agak jauh untuk bertanya. Ternyata aku sudah menuju gate yang benar, hanya karena masih 2.5 jam lagi jadi gate nya belum buka.

Sambil menunggu aku duduk di kursi ruang tunggu penumpang dengan tempat duduk yang nyaman dan ergonomis di luar gate. Sembari menunggu aku melepaskan kebosanan dengan browsing internet dengan fasilitas yang tersedia. Setelah waktu boarding sudah dekat, aku segera menuju gate dimana penerbangan selanjutnya akan diberangkatkan.

Beyrut

Penerbangan berikutnya menuju Beyrut, ternyata walaupun masih menggunakan Qatar Airways tetapi pesawatnya lebih kecil. Hampir sama dengan penerbangan domestic di Indonesia, seperti pesawat AA dan Lion Air, seatnya cuma 6 baris. Di sini nuansa Lebanon sudah mulai terasa, di mana para penumpang kebanyakan adalah orang Lebanon.
Penerbangan ditempuh dalam waktu sampai 3 jam. Finally, pesawatku landing di Rafic Hariri Aeroport, Beyrut. 



Di sini masih terang benderang, masih jam 17.30 waktu setempat. Yang belakangan aku tahu sunset di sini pukul 19.50 an. Airport Beirut kecil dan tua, tidak terlalu banyak ornamen yg menarik. Imigrasinya juga tidak rumit tapi dia tanya untuk keperluan apa aku ke beirut, aku tunjukin surat tugas dari kantor dan visa dari Kedutaan Lebanon di Kuningan, Jakarta. Airport Beirut biasa aja, untuk kedatangan atau keberangkatan tidak terlalu istimewa. Begitu sampai di Beirut kesan pertamanya, heran! Suasana kotanya semi modern, tapi tidak metropolis. 



Kebanyakan gedung berwarna coklat susu dengan acian seadanya juga bertumpuk-tumpuk seperti gedung berantakan. Cuaca Beirut bulan April masih cukup dingin untuk suhu tubuh orang Jakarta (yang biasa berada di daerah tropis). Ambil bagasi, keluar sudah ada teman yang jemput. Dan…
Let the Journey begins!!!



Saturday, June 27, 2015

LEBANON, COUNTRY OF DIVERSITY

Lebanon, here I am now dedicated to my job for next ten months. Of course it’s one thing to visit Lebanon for a couple of weeks and leave but to actually work in Lebanon when you’ve lived abroad all your life is quite difficult and challenging sometimes. Despite all the chaos, instability, violence, bad economy and wasted opportunities, I took a decision a year ago to phase out all the negativity, ignore what’s happening around me (up to a certain extent) and just live life to the fullest here. I know it’s easier said than done but I’ve changed as a person and having the blog has helped me enormously specially when it started attracting more and more readers who agree/disagree with my thoughts and are mainly interested in the fun and interesting stuff. As hard as this may seem, it is not impossible to phase out the negatives around us and make the most out of everything here in Lebanon.



Well, let’s talk about the other side of this country. Bordered on one side by the Mediterranean and on parallel mountain ranges, Lebanon seems a country suspended between the sky and the sea. Despite its small area (10,452 square km), this is a land, resplendent in its diverse geography, landscape, culture and history.

From the white-capped mountains and blue sea, to the countryside, from arid hills to lush forests, the visitor discovers a series of contrasts. Bare Rocky Mountains are followed by luxuriant valleys watered by rivers and waterfalls. Views change quickly from pine covered hills to dramatic rocky landscapes, to fertile plains laid out with farms and vineyards.

Lebanon is also a country of multiple origins, shaped by 10,000 years of history. From earliest times, its natural beauty and privileged geographical position attracted conquerors and occupiers who left behind traces of their civilizations. Each added an indelible imprint to the makeup of what would become modern Lebanon.

The Legacy of the past is clear from the extraordinary variety of archaeological sites in every corner of the country. From Phoenician sarcophagi to Roman temples, to Crusader castles and Mamlouk mosques, wherever you go, evidence of this country’s rich and tormented past comes to light.

The cuisine of Lebanon, like its culture is surprising in its diversity. It is known above all for its mezze, countless dishes of savory hors-d’oeuvres which are endlessly replenished and served in a warm and congenial setting.



Any attempt to describe Lebanon is a task carried out in vain. It cannot be confined by words; it must be lived. As my first two months I stay here in, Lebanon is marvelous country, where roads lead from town to village and from site to city, from one époque to another.

Tuesday, June 23, 2015

AWAL PERJALANAN PANJANG



Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Menurut Islam sebagaimana yang telah diterangkan dan dikemukakan didalam Al-quran dan Hadist dengan jelas dan tegas, bahwa setiap jiwa atau roh manusia itu akan mengalami perjalanan yang panjang di tempat/alam yang berbeda-beda, setiap alam pasti lebih besar dan lebih luas keadaannya dari pada alam yang telah ditempati sebelumnya.
Dan inilah langkah pertama dari Perjalanan Grizhan dalam memulai sebuah perjalanan panjang untuk menjelajahi alam ini sebagai cara untuk mensyukuri atas anugerah yang telah Allah SWT ciptakan untuk manusia dan makhluk hidup yang ada di alam semsta in.

Bentuk rasa syukur ini adalah dengan jalan menikmati segala keindahan alam dan isinya dengan menjelajahi dan mengunjungi berbagai tempat-tempat terindah baik yang ada di Indonesia maupun negara lain. Rangkaian kisah perjalanan Grizhan akan disajikan dalam tulisan-tulisan yang mengalir berdasar intuisi dan inspirasi dari Grizhan.